cerita cinta pendek Stimulasi Cinta

      Namaku cinta, Aku bosan dengan semua pertanyaan teman-temanku. Kenapa hingga detik ini aku tak pernah terlihat jalan dengan laki-laki manapun. Tak pernah menjalin asmara dengan siapapun. Tak seperti mereka yang masing-masing punya kekasih. Aku jadi bulan-bulanan obrolan perbincangan mereka.

       Sebenarnya bukan tak ada pria yang ku suka malah bahkan ku sangat mencintainya , hanya saja aku selalu menjaganya agar tak ada satu orangpun yang tau bahwa ku mencintainya. 

      Sebuah suara  membuyarkan lamunanku di senja ini. Dia Oza, sahabatku. Sejak  kecil kami tumbuh bersama. Sekolah, ataupun bermain kami selalu bersama. Dia selalu setia mendengarkan segala keluh kesahku, ceritaku, hingga kami beranjak  dewasa seperti sekarang.

 “ada apa lagi Cinta adikku? Kok mukanya dilipet-lipet begitu kaya jemuran kering haha…”. Seperti biasa Oza senantiasa menghiburku . Kembali ku ceritakan masalah yang sama , masalah klasik anak muda he…

“aku heran…kenapa sih temen-temen gak ada bosennya ngejek terus….katanya aku kudet lah…gak gaul karna gak punya pacar lah..huh..bikin telinga ku panas aja!gak da kerjaan lain apa..nyabutin rumput kek atau apalah..”aku menggerutu tanpa kusadar Oza tersenyum sendiri. “kamu gak dengerin aku ngomong ya? Celetukku membuyarkan khayalannya.

 “bukan begitu..”

“lah terus? Ayo donk bantuin, ada solusi gak?

“solusi apa? Mang ada masalah yaa? Hihi….

“Ozaaa…..” aku sedikit kesal, serius begini dia malah becanda. Huh

“hemm..sebenernya ada tapi aku gak yakin kamu akan setuju”

“apa? Aku mau denger ahh..buruan kasih tau! Aku merengek mendesaknya untuk memberitahu.

“hem..gimana kalo kita pacaran? Tenang ini cuma stimulasi. OK?

“pacaran?stimulasi? kamu bercanda? Pacaran kan buat mereka yang saling cinta. Kita kan cuma sahabat”.

“Maka dari itu..ini cuma stimulasi. Bohongan. Biar kamu gak diejek terus ma temen-temen. Gimana?”

      Sesuai kesepakatan hari ini Oza akan menyatakan cintanya selesai mata kuliah terakhir hari ini. Di depan teman-temanku. Tapi tak ku lihat batang hidungnya, padahal kelas sudah bubar. Mungkin memang benar…kemarin dia hanya bercanda. OK. No problem. I’m fine! 

 Saat ku hendak menyalakan sepeda motorku untuk pulang tiba-tiba Oza sudah berdiri di belakangku dengan membawa setangkai bunga mawar putih my favorite flower. Tak ketinggalan pula temen-temen kuliah turut berpartisipasi. Ada yang membawa spanduk bertuliskan I LOVE YOU CINTA, dan tulisan-tulisan ungkapan sayang lainnya.

Dia berjalan mendekatiku yang masih diam terpaku…dan berhenti dengan jarak satu meter tepat di hadapanku.

“Cinta…aku tak tau apa arti cinta.
Hingga ku temukan sebuah rasa
di mana aku selalu ingin menyayangimu,
selalu ingin menjagamu,
ingin slalu bersamamu, 
ingin ada di saat suka dukamu.
Yang pasti aku rindu bila tak ada kau di sisiku,
aku gelisah bila tak ku dengar kabarmu,
aku sungguh mencintaimu. Cin…
bersediakah kau
menerima cintaku sebagai sahabat juga kekasihmu?”.

Ku lihat sorot matanya berkaca-kaca, tatapannya begitu tulus padahal ku tau ini hanya stimulasi! Yah stimulasi !

“Oza…sebenernya aku dari dulu juga mencintaimu”. Sebuah kata-kata terucap tanpa ku sadari keluar dari bibirku.

“jadi?” Oza seakan menahan nafas menantikan kata-kata yang kan ku ucapkan selanjutnya.

“terima…terima…ayo Cinta….Oza..Oza…” riuhnya suara temen-temenku seakan mendukung untuk kami jadian.

     Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Semua bersorak gembira menyambut status baru kami dari sahabat menjadi sepasang kekasih.

    Dan secepat kilat berita tentang hubungan kami tersebar si seantero kampus karna tanpa kami sadar banyak mahasiswa dam mahasiswi yang turut menyaksikan proses di mulainya stimulasi percintaan kami itu.

     Kami menjalani sandiwara ini layaknya sepasang kekasih sungguhan. Jalan, nonton, makan berdua dan aktifitas-aktifitas lainya.

“Cinta…!” sebuah suara mengagetkanku yang tengah asyik membaca buku.

“ah..kamu Za…ngagetin aja. Ada ap?”.

“Ye…dari tadi aku panggil-panggil gak denger tuh…baca apa’an sih…serius amat.” Dengan santainya Oza duduk di sampingku. Yah..rumah kami memang dekat, hanya jarak beberapa rumah saja sehingga kami sering terlihat duduk bersama di taman dekat rumah.

“Ah..masa sih..aku gak denger tuh. Ga..lagi iseng aja kebetulan aja judulnya menarik. Ada apa?”

“Gak nyangka ya Cin…sandiwara kita berjalan mulus….semulus tol! Semua orang percaya bahkan temen-temen kamu yang reseh itu.”.

“Ya iyalah…siapa dulu donk sutradara dan pemainnya…Oza. Kamu tuh ya…cocok banget jadi pemain sinetron..soalnya akting kamu mantep deh, apalagi pas kamu nembak aku..wuih…so sweet…kaya coklat hahaha..” aku tepuk tangan kecil untuknya

“ah masa sih..apa iya begitu. Akting kamu hemm…yah lumayan lah, daripada lumanyun hehe…”. Oza menimpali dengan tawa kecil khas nya.

“Oya Za…apa gak bermasalah buat kamu? “.

“Masalah apa? Aku baik-baik-baik aja tuh…”.

“ya…masalah pribadi kamu lah. Maksudku yah…tentang cinta kamu. Kita kan satu kampus. Gak mungkin donk kamu punya pacar lain  sementara kamu statusnya pacaran ma aku. Kan bisa ketauan sandiwara kita.”

“hemm gimana ya…sebenernya ada sih perempuan yang aku suka malah aku sangat mencintainya.” Dengan suara lembut ia seakan  mengerti maksudku.

“Oya…siapa dia? Kenapa baru sekarang kamu cerita?”

“Lho suka-suka aku donk. Itu gayaku hahaha…”

      Semenjak perbincangan sore itu, aku terus mendesaknya untuk memberitahuku tentang perempuan itu. Dan seperti biasanya dia enggan memberitahu. Namun, setiap waktu, setiap ada kesempatan di saat kita hanya berdua saja…Oza selalu menceritakan tentang perempuan itu.

    Wajahnya yang cantik, manis, lemah lembut, mandiri tapi sebenernya manja, tatapan matanya dan itu membuatku cukup jengah mendengar tentang dia dia dan dia. Yah…karna aku cemburu. Cemburu padanya. Meski hubungan kami hanya stimulasi tapi tak bisa ku bohongi hati kecilku bahwa orang yang sedari dulu ku cintai adalah Oza!

    Aku mulai mencari tahu tentang perempuan itu. Diam-diam aku mengikuti Oza. Namun tak pernah ku pergoki dia jalan ataupun menemui perempuan manapun kecuali Oza bersamaku.

HIngga suatu ketika aku ketahuan mengikutinya dari belakang.

“Cinta…kamu ngikutin aku?”

“Ga kok…aku tadi cuma kebetulan lewat aja. Ga sengaja ketemu kamu di sini hehe…” aku yang gugup mencoba mencairkan suasana.

“kebetulan lewat? Itu gak mungkin. Kamu kan paling gak suka kalo lewat sini. Tempatnya terlalu ramai dan bising. Jujur aja Cin..kamu ngikutin aku kan? Ada apa?” Oza terus mendesakku hingga ku tak sanggup lagi berbohong padanya. Oza paling tahu kalo aku paling gak bisa untuk berbohong.

“OK. Aku emang bener ngikutin kamu. Malah udah satu mingguan ini aku selalu ikuti ke manapun kamu pergi! Puas?” dengan nada tegas aku mengakuinya.

“buat apa Cin..? Kalo kamu mau ikut tinggal bilang aja. Apa susahnya sih?”

“aku cuma mau cari tahu tentang perempuan itu. Yah..perempuan yang sering kamu ceritakan padaku. Yang mampu mencuri hatimu hingga kau jatuh cinta padanya.”

“oh..cuma itu saja. Kenapa gak pernah tanya?’

“Za…aku serius!”

“aku dua rius ahh..” Oza malah meledekku

“Oza….!” Mataku mulai berkaca-kaca

“Lho kok…jadi berkaca-kaca begitu. Kenapa sih…kok sampe segitunya.”

“Za…sebenernya aku mencintaimu. Aku cemburu dengan perempuan yang telah membuatmu cinta padanya.” Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, aku pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dan tanpa terasa air hangat mulai mengalir di pipiku.

Kedua tangan Oza memegang pundakku kemudian menatapku dan dengan lembut ia mulai berkata…

........................................................ cerita cinta pendek Stimulasi Cinta

    “Cinta….

    Siapa dia? Hadirnya penuh tanya

    Membawa sesuatu yang baru dalam hidupku

    Sebuah rasa yang tak bisa ku jelaskan padamu

    Cinta…

    Manakala hati merasakan sebuah sentuhan itu

    Tersenyum ku dalam sebuah renungan

    Dapat ku dengar suara hati kecilku

    Bernyanyi menyenandungkan irama degup jantungku

    Menari ku dalam hamparan impian

    Cinta…

    Ketika mata ini mampu menatapnya lebih tajam

    Ketika bibir ini mampu berucap kasih untuknya

    Ketika telinga ini mampu mendengarkan suara indahnya

    Ketika kaki ini mampu melangkah lebih kokoh untuknya

    Cinta…

    Ketahuilah..hatiku berteriak  ku cinta padanya

    Cinta…

    Ketahuilah..dia adalah kamu. Kamu yang ku cinta

    Kamu yang memberikan warna-warna baru  dalam hidupku

    Menyinari hari-hariku bersamamu

    Kau jantung hatiku

    Kau pengobar semangat dalam setiap langkah hidupku

    Kau keindahan penyejuk mataku

    Percayakan hatimu untukku..

    Kan ku jaga, bahagiakan slalu

    Karna kaulah cintaku”

........................................................ cerita cinta pendek Stimulasi Cinta

Seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar dari nya, aku hanya diam membisu..terpaku tak berdaya. Hanya airmata yang kian deras membanjiri pipiku.

    “Cin…maaf aku baru mengatakannya sekarang. Sebenernya dari dulu aku sangat  mencintaimu. Hanya saja aku ragu..apakah kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Padahal ku tahu di luaran sana banyak sekali pria yang jauh lebih baik dariku yang juga mencintaimu. Makanya aku mau menjadi stimulasi cintamu.

   Meskipun hanya sandiwara..tapi percayalah…saat aku nyatakan cinta..pada saat itu aku bener-bener ngucapin dari lubuk hatiku terdalam, bukan stimulasi. Makanya..aku sampai bela-belain minta bantuan temen-temen buat nyiapin kejutan itu. Kamu percayakan?”

“Aku tidak percaya.” Dengan spontan aku menjawabnya

“kamu gak percaya bahwa aku mencintaimu?” Oza terkejut mendengar penuturanku

“hanya stimulasi jika aku bilang aku tak percaya. Karna aku percaya cintamu nyata untukku. Makasih Za…”

    Air mata haru mengalir dari kedua bola mata kami. Tanpa kami sadari banyak orang yang turut haru dengan menyaksikan bersatunya cinta kami dari seorang sahabat yang menjalani sandiwara stimulasi cinta berujung pada kebahagiaan.

cerita cinta pendek Stimulasi Cinta | Semoga…temen-temen pembaca tetap menikmati proses dalam pencarian cinta sejati kalian masing-masing . Dan akan segera dipertemukan dan berujung pada kebahagiaan. Aamiiin.
Advertisement
cerita cinta pendek Stimulasi Cinta | Darusman Sukses | 5